Perbedaan Mobil
Pabrikan Eropa dengan Pabrikan Jepang
Dilihat dari Keberadaan
Pabrik di Indonesia dan Faktor
Keselamatan
A.
Latar Belakang
Seperti kita ketahui
bersama, populasi mobil Jepang di Indonesia begitu mendominasi. Hal ini bisa
dipahami, lantaran para produsen mobil Jepang berhasil menguasai pangsa pasar
yang tepat di Indonesia dengan melepas mobil-mobil yang dibandrol dengan harga
dibawah Rp 300 juta, bahkan dibawah Rp 200 juta. Kebalikannya, mobil-mobil
keluaran pabrikan Eropa di negeri ini populasinya cenderung sedikit. Salah satu
alasan kenapa mobil Eropa kurang laku di indonesia adalah karena harganya yang
relatif mahal. Lalu, mengapa pabrikan Jepang bisa terus
memproduksi mobil dan menjualnya dengan harga murah, sementara pabrikan Eropa
tidak?
B.
Pembahasan Masalah
1. Keberadaan Sparepart Mempengaruhi Harga
Ini adalah salah satu
alasan mengapa mobil Eropa lebih mahal dari pada mobil Jepang di Indonesia.
Sebagian besar produsen mobil Jepang sudah memiliki pabrik sendiri di
Indonesia. Tak hanya berupa pabrik perakitan atau assembly, banyak
dari produsen yang bahkan sudah bisa mencetak atau membuat komponen (sparepart) di
pabrik tersebut, sehingga semua proses produksi mulai dari pembuatan sparepart hingga
perakitan dapat di lakukan di pabrik yang berada di Indonesia.
Hal ini tentu saja akan
memangkas biaya produksi jika dibandingkan dengan pabrikan yang masih
mengimpor sparepart atau bahkan mengimpor mobil CBU (Completely
Built-Up)dari luar negeri. Turunnya biaya produksi inilah yang
turut mempengaruhi harga jual mobil.
Sementara untuk kasus
mobil Eropa, kebanyakan dari produsen mobil Eropa bahkan belum memiliki
pabrik sendiri di Indonesia. Pabrikan-pabrikan ini umumnya melakukan impor
CBU (Completely Built-Up). Ini berarti mobil diproduksi dan dirakit
di pabrik luar negeri terlebih dahulu sebelum dikirim ke Indonesia dalam
bentuk satu unit mobil utuh. Pajak impor yang diterapkan Pemerintah untuk mobil
semacam ini sangat tinggi, sehingga tentunya akan mempengaruhi harga jual
mobil.
Beberapa pabrikan mobil
Eropa memang sudah memiliki pabrik di Indonesia, tetapi kebanyakan hanya pabrik
perakitan saja. Ini berarti semua komponen mobil didatangkan dari luar negeri
untuk kemudian perakitannya dilakukan di Indonesia. Kesimpulannya, tinggi rendahnya biaya produksi sebuah mobil akan
sangat berpengaruh terhadap harga jual sebuah mobil pada akhirnya.
2. Pemangkasan Fitur (Downgrade)
Mungkin anda pernah mendengar bahwa fitur dan
kualitas material yang ada pada Honda Jazz yang dipasarkan di Indonesia sangat berbeda
dengan Honda Fit (nama pasar untuk Honda Jazz yang dijual di Eropa dan
Amerika). Kasus Honda Jazz hanyalah salah satu contoh downgrade yang
dilakukan pabrikan ketika memproduksi mobil untuk suatu negara. Secara umum,
hampir semua pabrikan Jepang melakukan pemangkasan fitur ketika memproduksi
mobil yang akan dijual untuk pasar Indonesia, terutama untuk mobil-mobil kelas
menengah dan kelas entry level.
Lalu,
apa keuntungan dan kekurangan membeli mobil yang telah di downgrade???
Keuntungannya ialah harga yang lebih murah jelas menjadi yang
utama. Pemangkasan beberapa fitur dan teknologi yang tidak dipasangkan pada
mobil tersebut membuat pabrikan bisa menjual mobilnya dengan harga yang lebih
murah.
Kekurangan dari pemangkasan fitur dan teknologi tersebut
juga jelas kita rasakan, karena sebagai konsumen kita tidak bisa merasakan
kecanggihan fitur dan teknologi yang dibuat oleh produsen. Bahkan tingkat safety atau
keselamatan pengendara dan penumpang pun juga ikut terkena
dampaknya dengan absennya beberapa fitur keselamatan.
3.
Faktor Keselamatan (Safety)
Untuk memudahkan kami mengilustrasikan hal ini,
kita kembali ke kasus Honda Jazz. Mulai dari mesin, Honda Jazz model terbaru
(model tahun 2014/2015) versi Amerika sudah menggunakan mesin baru berteknologi earth
dream dan juga transmisi baru. Sedangkan yang dijual di Indonesia
masih menggunakan mesin lama yang di gunakan di Honda Jazz versi sebelumnya.
Hanya transmisinya saja yang baru.
Kemudian beralih ke fitur keselamatan, versi
Amerika dan Versi Indonesia sama-sama sudah menggunakan sistem pengereman
dengan teknologi Anti-Lock Braking System (ABS), Electronic Brake
Distribution (EBD), dan Brake Assist. Namun untuk versi
Amerika, selain ABS,EBD dan BA ada beberapa fitur keselamatan canggih yang
ditambahkan. Sebut saja Traction Control, Vehicle Stability Assist, dan Multi-Angle Rearview Camera yang kesemuanya
itu tidak ada pada Honda Jazz versi Indonesia.
Masih di area sistem keselamatan, Jazz Versi
Amerika menggunakan 6 buat airbag, sedangkan di Indonesia hanya menggunakan 2
airbag. 4 rem cakram juga disematkan di versi Amerika, sedangkan versi
indonesia hanya meggunakan rem cakram di depan, dan 2 drum brakes atau
rem tomol di belakang. Bahkan di tipe tertinggi, yaitu tipe RS, kita tidak akan
menemukan sensor parkir sebagai fitur standar Jazz di Indonesia.
Sekali lagi kami tegaskan bahwa tidak hanya
Honda Jazz yang mendapatkan downgrade fitur di Indonesia.
Hampir semua merek mobil Jepang di kelas menengah dan entry level mendapatkan
pemangkasan fitur untuk pasar Indonesia.
Namun tidak perlu terlalu khawatir, karena
dengan dipangkasnya fitur-fitur tadi, mobil-mobil tersebut masih memenuhi
standar regulasi keselamatan yang berlaku di Indonesia. Keuntungan lain bagi konsumen adalah harga mobil yang menjadi lebih
murah, sehingga kita sebagai konsumen tidak perlu merogoh kocek terlalu
dalam untuk membelinya.
Lalu bagaiman dengan
mobil Eropa? Kebanyakan pabrikan Eropa tidak mau melakukan pemangkasan fitur
pada mobil-mobil mereka, terutama pada sektor keselamatan atau safety.
Sebagai contoh, sebuah BMW 320i yang dijual di
Inggris akan memiliki spesifikasi yang identik dengan yang dipasarkan di
Indonesia, mulai dari mesin dan tekologi yang sama, fitur keselamatan standar
yang sama, bahkan akan mendapatkan kualitas material interior yang sama dengan
yang dijual di Eropa sendiri.
Hal ini tentu saja akan menjadikan mobil Eropa
memiliki harga yang cenderung mahal. Namun
sebagai gantinya, kita sebagai konsumen akan mendapatkan teknologi terbaru
mereka tanpa ada pemangkasan.
Ini adalah dua alasan
utama kenapa mobil Eropa lebih mahal di Indonesia. Hal itu pula yang
menyebabkan populasi mobil-mobil Eropa di Indonesia tidak terlalu banyak
dibandingkan dengan mobil Jepang.
C.
Kesimpulan
Kesimpulannya, dari pembahasan diatas harga mobil Pabrikan Eropa lebih
tinggi di Indonesia dibandingkan harga mobil Pabrikan Jepang. Alasannya, karena
mobil Pabrikan Jepang sudah memiliki pabrik sendiri di
Indonesia. Tak hanya pabrik perakitan atau assembly, banyak dari
produsen yang bahkan sudah bisa mencetak atau membuat komponen (sparepart) di
pabrik tersebut, sehingga semua proses produksi mulai dari pembuatan sparepart hingga
perakitan dapat di lakukan di pabrik yang berada di Indonesia. Sementara mobil
Eropa, kebanyakan dari produsen mobil Eropa bahkan belum memiliki pabrik
sendiri di Indonesia. Pabrikan-pabrikan ini umumnya melakukan impor CBU (Completely
Built-Up). Ini berarti mobil diproduksi dan dirakit di pabrik luar negeri
terlebih dahulu sebelum dikirim ke Indonesia dalam bentuk satu unit mobil
utuh. Alasan tesebut yang mempengaruhi harga mobil Eropa dan Jepang berbeda.
Dari faktor keselamatan,
teknologi yang digunakan produsen mobil Eropa bisa dibilang lebih canggih
daripada pabrikan mobil asal negeri sakura Jepang. Namun tidak perlu
terlalu khawatir, karena mobil pabrikan Jepang masih memenuhi standar regulasi
keselamatan yang berlaku di Indonesia.
Sumber:
0 komentar:
Posting Komentar