Senin, 26 September 2016

Perbedaan Mobil Pabrikan Eropa dengan Pabrikan Jepang (Metodologi Penelitian) Fahreza Saputra


Perbedaan Mobil Pabrikan Eropa dengan Pabrikan Jepang
Dilihat dari Keberadaan Pabrik di Indonesia dan  Faktor Keselamatan

A.   Latar Belakang
Seperti kita ketahui bersama, populasi mobil Jepang di Indonesia begitu mendominasi. Hal ini bisa dipahami, lantaran para produsen mobil Jepang berhasil menguasai pangsa pasar yang tepat di Indonesia dengan melepas mobil-mobil yang dibandrol dengan harga dibawah Rp 300 juta, bahkan dibawah Rp 200 juta. Kebalikannya, mobil-mobil keluaran pabrikan Eropa di negeri ini populasinya cenderung sedikit. Salah satu alasan kenapa mobil Eropa kurang laku di indonesia adalah karena harganya yang relatif mahal. Lalu, mengapa pabrikan Jepang bisa terus memproduksi mobil dan menjualnya dengan harga murah, sementara pabrikan Eropa tidak?

B.   Pembahasan Masalah
1. Keberadaan Sparepart Mempengaruhi Harga
Ini adalah salah satu alasan mengapa mobil Eropa lebih mahal dari pada mobil Jepang di Indonesia. Sebagian besar produsen mobil Jepang sudah memiliki pabrik sendiri di Indonesia. Tak hanya berupa pabrik perakitan atau assembly, banyak dari produsen yang bahkan sudah bisa mencetak atau membuat komponen (sparepart) di pabrik tersebut, sehingga semua proses produksi mulai dari pembuatan sparepart hingga perakitan dapat di lakukan di pabrik yang berada di Indonesia.
Hal ini tentu saja akan memangkas biaya produksi jika dibandingkan dengan pabrikan yang masih mengimpor sparepart atau bahkan mengimpor mobil CBU (Completely Built-Up)dari luar negeri. Turunnya biaya produksi inilah yang turut mempengaruhi harga jual mobil.
Sementara untuk kasus mobil Eropa, kebanyakan dari produsen mobil Eropa bahkan belum memiliki pabrik sendiri di Indonesia. Pabrikan-pabrikan ini umumnya melakukan impor CBU (Completely Built-Up). Ini berarti mobil diproduksi dan dirakit di pabrik luar negeri terlebih dahulu sebelum dikirim ke Indonesia dalam bentuk satu unit mobil utuh. Pajak impor yang diterapkan Pemerintah untuk mobil semacam ini sangat tinggi, sehingga tentunya akan mempengaruhi harga jual mobil.
Beberapa pabrikan mobil Eropa memang sudah memiliki pabrik di Indonesia, tetapi kebanyakan hanya pabrik perakitan saja. Ini berarti semua komponen mobil didatangkan dari luar negeri untuk kemudian perakitannya dilakukan di Indonesia. Kesimpulannya, tinggi rendahnya biaya produksi sebuah mobil akan sangat berpengaruh terhadap harga jual sebuah mobil pada akhirnya.

2. Pemangkasan Fitur (Downgrade)
Mungkin anda pernah mendengar bahwa fitur dan kualitas material yang ada pada Honda Jazz yang dipasarkan di Indonesia sangat berbeda dengan Honda Fit (nama pasar untuk Honda Jazz yang dijual di Eropa dan Amerika). Kasus Honda Jazz hanyalah salah satu contoh downgrade yang dilakukan pabrikan ketika memproduksi mobil untuk suatu negara. Secara umum, hampir semua pabrikan Jepang melakukan pemangkasan fitur ketika memproduksi mobil yang akan dijual untuk pasar Indonesia, terutama untuk mobil-mobil kelas menengah dan kelas entry level.
Lalu, apa keuntungan dan kekurangan membeli mobil yang telah di downgrade???
Keuntungannya ialah harga yang lebih murah jelas menjadi yang utama. Pemangkasan beberapa fitur dan teknologi yang tidak dipasangkan pada mobil tersebut membuat pabrikan bisa menjual mobilnya dengan harga yang lebih murah.
Kekurangan dari pemangkasan fitur dan teknologi tersebut juga jelas kita rasakan, karena sebagai konsumen kita tidak bisa merasakan kecanggihan fitur dan teknologi yang dibuat oleh produsen. Bahkan tingkat safety atau keselamatan pengendara dan penumpang pun juga ikut terkena dampaknya dengan absennya beberapa fitur keselamatan.

3. Faktor Keselamatan (Safety)
Untuk memudahkan kami mengilustrasikan hal ini, kita kembali ke kasus Honda Jazz. Mulai dari mesin, Honda Jazz model terbaru (model tahun 2014/2015) versi Amerika sudah menggunakan mesin baru berteknologi earth dream dan juga transmisi baru. Sedangkan yang dijual di Indonesia masih menggunakan mesin lama yang di gunakan di Honda Jazz versi sebelumnya. Hanya transmisinya saja yang baru.
Kemudian beralih ke fitur keselamatan, versi Amerika dan Versi Indonesia sama-sama sudah menggunakan sistem pengereman dengan teknologi Anti-Lock Braking System (ABS), Electronic Brake Distribution (EBD), dan Brake Assist. Namun untuk versi Amerika, selain ABS,EBD dan BA ada beberapa fitur keselamatan canggih yang ditambahkan. Sebut saja Traction Control, Vehicle Stability Assist, dan Multi-Angle Rearview Camera yang kesemuanya itu tidak ada pada Honda Jazz versi Indonesia.
Masih di area sistem keselamatan, Jazz Versi Amerika menggunakan 6 buat airbag, sedangkan di Indonesia hanya menggunakan 2 airbag. 4 rem cakram juga disematkan di versi Amerika, sedangkan versi indonesia hanya meggunakan rem cakram di depan, dan 2 drum brakes atau rem tomol di belakang. Bahkan di tipe tertinggi, yaitu tipe RS, kita tidak akan menemukan sensor parkir sebagai fitur standar Jazz di Indonesia.
Sekali lagi kami tegaskan bahwa tidak hanya Honda Jazz yang mendapatkan downgrade fitur di Indonesia. Hampir semua merek mobil Jepang di kelas menengah dan entry level mendapatkan pemangkasan fitur untuk pasar Indonesia.
Namun tidak perlu terlalu khawatir, karena dengan dipangkasnya fitur-fitur tadi, mobil-mobil tersebut masih memenuhi standar regulasi keselamatan yang berlaku di Indonesia. Keuntungan lain bagi konsumen adalah harga mobil yang menjadi lebih murah, sehingga kita sebagai konsumen tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk membelinya.
Lalu bagaiman dengan mobil Eropa? Kebanyakan pabrikan Eropa tidak mau melakukan pemangkasan fitur pada mobil-mobil mereka, terutama pada sektor keselamatan atau safety.
Sebagai contoh, sebuah BMW 320i yang dijual di Inggris akan memiliki spesifikasi yang identik dengan yang dipasarkan di Indonesia, mulai dari mesin dan tekologi yang sama, fitur keselamatan standar yang sama, bahkan akan mendapatkan kualitas material interior yang sama dengan yang dijual di Eropa sendiri.
Hal ini tentu saja akan menjadikan mobil Eropa memiliki harga yang cenderung mahal. Namun sebagai gantinya, kita sebagai konsumen akan mendapatkan teknologi terbaru mereka tanpa ada pemangkasan.
Ini adalah dua alasan utama kenapa mobil Eropa lebih mahal di Indonesia. Hal itu pula yang menyebabkan populasi mobil-mobil Eropa di Indonesia tidak terlalu banyak dibandingkan dengan mobil Jepang.
C.   Kesimpulan
Kesimpulannya, dari pembahasan diatas harga mobil Pabrikan Eropa lebih tinggi di Indonesia dibandingkan harga mobil Pabrikan Jepang. Alasannya, karena mobil Pabrikan Jepang sudah memiliki pabrik sendiri di Indonesia. Tak hanya pabrik perakitan atau assembly, banyak dari produsen yang bahkan sudah bisa mencetak atau membuat komponen (sparepart) di pabrik tersebut, sehingga semua proses produksi mulai dari pembuatan sparepart hingga perakitan dapat di lakukan di pabrik yang berada di Indonesia. Sementara mobil Eropa, kebanyakan dari produsen mobil Eropa bahkan belum memiliki pabrik sendiri di Indonesia. Pabrikan-pabrikan ini umumnya melakukan impor CBU (Completely Built-Up). Ini berarti mobil diproduksi dan dirakit di pabrik luar negeri terlebih dahulu sebelum dikirim ke Indonesia dalam bentuk satu unit mobil utuh. Alasan tesebut yang mempengaruhi harga mobil Eropa dan Jepang berbeda.
Dari faktor keselamatan, teknologi yang digunakan produsen mobil Eropa bisa dibilang lebih canggih daripada pabrikan mobil asal negeri sakura Jepang. Namun tidak perlu terlalu khawatir, karena mobil pabrikan Jepang masih memenuhi standar regulasi keselamatan yang berlaku di Indonesia.


Sumber:


Share:

Related Posts:

0 komentar:

Posting Komentar

animasi bergerak gif

Universitas Gunadarma

Diberdayakan oleh Blogger.